Adat Pakpak

Pakaian Adat Pakpak dan Perlengkapannya

Senin, 12 Januari 2015

Keragaman budaya adalah satu kekayaan bangsa Indonesia. Banyaknya suku bangsa di Indonesia dengan ciri budaya masing-masing menjadi aset bangsa yang beharga yang tidak dimiliki bangsa lain. Kekayaan budaya ini harus tetap terawat dan dilestarikan oleh generasi penerus. Karena itu semua juga menjadi identitas yang melekat bagi sebuah suku bangsa yang bisa menun jukkan jati diri.

Sangat banyak kekayaan budaya tersebut, seperti rumah adat, lagu daerah, situs peninggalan bersejarah, pakaian tradisional dan sebagainya. Pada artikel ini Pakpak Bharat Blog memaparkan penjelasan tentang bagaimana Pakaian tradisional Suku Pakpak secara umum. Suku Pakpak adalah satu suku di Sumatera Utara, sebagaimana dengan suku lain, suku Pakpak juga memiliki kekayaan budaya tersebut. Berikut ini adalah gambaran umum Pakaian Adat Pakpak yang ditulis oleh Bapak Muda Banurea seorang pemerhati kebudayaan Pakpak yang merupakan orang Pakpak Asli.

Busana budaya Pakpak (Pakaian Adat Pakpak) yang lazim digunakan kini oleh masyarakat Pakpak adalah busana kebanggaan yang menggambarkan keagungan, tetapi penuh kesantunan. Ada demikian banyak perangkat yang melekat dalam baju Pakpak secara Paripurna. Tidak dipungkiri bahwa tentu, bentuk jenis bahan dan coraknya mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan busana secara nasional tentu pula memberikan pengaruh kuat. Terutama perkembangan teknologi pertekstilan.

Selain itu, pemakaian busana (Baju Adat Pakpak) dimaksud lebih dikonotasikan dalam penggunaan pada pesta-pesta (upacara adat ) atau kerja-kerja baik kerja njahat maupun kerja mbaik. Jadi bukan pada penggunaan keseharian. Busana ini kemudain terdokumentasikan secara kolektif oleh masyarakat Pakpak sebagai penggunanya.

Kini terdapat berbagai variasi baik pada model, bentuk api-api (manik-maniknya) yang tampaknya dimaksudkan untuk memperindah sebagai modifikasi dari bentuk semula. Bahkan terdapat pula upaya meletakkan beberapa komponen pendukung busana semisal borgot dan leppa-leppa yang personifikasikan lewat manik-manik yang terukir dan melekat pada baju.

Penempatan ini simbolik, menyerupai benda asli yang semestinya terdapat pada posisi dimana modifikasi diletakkan. Dapat dipahami bahwa ini juga dimaksudkan karena tidak banyak lagi orang Pakpak yang memiliki kedua jenis kalung Pakpak itu. Disisi lain secara ekonomis dengan bahan emas atau perak berlapis emas dinilai terlalu mahal. Dengan demikian belum ditemukan kesepakatan tertulis dan bersifat final terhadap berbagai modifikasi ini.

Tetapi inisiatif dan inovasi semacam itu harus dipahami sebagai bentuk kreatifitas yang patut dihargai. Sebab jika harus disesuaikan dengan bentuk atau model asal, sulit didapatkan kesamaan pandangan. Hal ini dikarenakan variasi pengalaman dari masing-masing warga masyarakat, termasuk disebabkan oleh perbedaan kelas ekonomi yang tentu mempengaruhi pula kelengkapan busana yang biasa digunakan. Pada kalangan muda perubahan oleh karena modifikasi itu tentu lebih dapat diterima dibanding generasi yang lebih tua. Pada generasi ini sinisme pada upaya modifikasi masih saja terlihat.

Jika dahulu lebih banyak digunakan pada upacara-upacara adat bahkan pada upacara ritual kini upacara lain baik bersifat nasional maupun keagamaan juga semakin sering digunakan. Selain untuk kepentingan penyeragaman, terlihat pula refleksi rasa bangga untuk menampilkan tradisi dalam kegiatan-kegiatan publik. Perwujudan kebanggaan pada budaya sendiri.

Tidak mengerankan pada acara-acara sekolah, paduan suara gereja, penyambutan tamu pemerintah daerah dan acara hiburan lainnya busana Pakpak (Pakaian Adat Pakpak) mulai menjadi primadona. Kepercayaan diri, keinginan kuat untuk melestarikan budaya, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri mulai mengemuka pada interkasi sosial masyarakat Pakpak. Hal ini pulalah yang barangkali mendorong munculnya berbagai variasi modifikasi.

Warna dominan pada busana Pakpak sebagaimana umumnya warna busana melayu adalah hitam, ditambah dengan variasi warna merah dan putih. Ketiga warna ini sering disebut “bennang sitellu rupa” dan diyakini sebagai warna dasar bagi masyarakat Pakpak. Meskipun dalam busana, warna merah putihnya tidak menonjol. Warna itu tidak saja terrefleksi pada baju tetapi juga pada oles dan peralatan lainnya.

BUSANA DAN PERLENGKAPAN PAKAIAN ADAT PAKPAK

A. Pakaian Adat Pakpak Untuk Pria

1. BAJU MERAPI-API

Baju model melayu leher bulat berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manik-manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Ada beberapa variasi lain yang melekat dan pada leher dan ujung lengan terdapat warna merah putih.

2. BULANG-BULANG

Bulang-bulang Adalah penutup kepala, sebuah lambang kehormatan dan kewibawaan, dibetuk sedemikian rupa dari bahan oles perbunga mbacang. Menteri Kelautan dan Perikanan RI Saat Mengenakan Baju Adat Pakpak pada saat pembukaan pekan raya Sumut (PRSU) tahun 2011 di Medan

3. CELANA PANJANG

Celana panjang berwarna hitam, sama dengan kemeja pada ujungnya juga terdapat variasi warna merah dan putih. Ukurannya umumnya tidak sampai menyentuh ujung kaki melainkan berada pada posisi tanggung, seperti celana yang biasa digunakan oleh atil silat atau karate.

4. SARUNG (OLES SIDOSDOS)

Celana panjang hitam kemudia ditutupi oleh oles sidosdos secara melingkar dengan ujung yang terbuka didepan.

5. BORGOT

Kalung yang terbuat dari emas, baik emas murni atau perak dilapisi emas. Sangat tergantung pada kemampuan ekonomi pemilik atau penggunanya. Rangkaian emas yang diikat dengan benang Sitellu rupa dan diujungnya terdapat mata kalung bergambar kepala kerbau. Rangkaiannya terdiri dari 32 keping

6. SABE-SABE

Oles Polang-polang atau pada pemakai yang punya keberadaan lebih tinggi oles Gobar, diletakkan pada bahu sebelah kanan terurai dari belakang hingga kedepan. Oles dilipat dan disesuaikan dengan corak oles.

7. REMPU RIAR

Sejenis pisau yang dibungkus dengan sarung yang diliti atau dilapisi emas atau perak (riar=uang jaman dahulu). Diselipkan di pinggang melalui rante abak.

8. RANTE ABAK

Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

9. UCANG

Anyaman daun pandan (legging) berbentuk tas dihiasi dengan manik-manik dengan tali terbuat dari kain berwarna merah. Bisa dilatakkan pada bahu sebelah kiri namun sesekali juga dipegang oleh pemakai.

10. TONGKET

Tongkat yang sering juga dinamai tongket balekat, terbuat dari kayu berkwalitas tinggi, pada kepala dan batangnya terukir dengan gerga pakpak. Beberapa bukunya diikat dengan bahan emas, perak, atau loyang.

B. Pakaian Adat Pakpak Untuk Wanita

1. BAJU MERAPI-API

Baju modelleher segitiga berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manik-manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Berebda dengan pria variasi warna merah putih tidak ditemukan, namun disekitar lengan atas terdapat manik-manik dengan gambar terlihat seperti kepala kerbau. Demikian juga pada ujung lengan. Kancing yang digunakan pada kemeja ini berbentuk bulat melingkat berlobang dengan ukuran jari-jari 3 Cm

2. SARUNG (OLES PERDABAITAK)

Hampir sama dengan Pria, oles perdabaitak dililit pada pinnggang secara melingkar.

3. SAONG

Tutup kepala yang dibentuk sedemikian rupa dengan oles silima takal. Pada wanita muda dibentuk lonjong dengan sudut runcing kebelakang, dengan rambu yang terurai di dahi. Namun pada usia dewasa bentuknya lebih sederhana dengan rambu terurai kebelakang.

4. LEPPA-LEPPA

Kalung wanita dengan bentuk dan bahan yang sama dengan pria. Bedanya dengan pria barangkali karena tidak ata mata kalung sebagaimana yang terdapat pada borgot. Jumlah rangkainnya juga berbeda dan cenderung lebih pendek.

5. RANTE ABAK

Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

6. RABI MUNDUK

Sejenis Pisau yang terbuat dari besi dengan ujung pisau melingkar kecil keatas, gagangnya (sukul) terbuat dari jenis kayu berkwalitas tinggi, berukir dan ujungnya dililiti emas atau perak.

7. PAPUREN

Sejenis sumpit dari rajutan atau anyaman daun pandan dilapisi dengan api-api (manik-manik). Sama dengan pria sumpit ini juga bertali berwarna merah.

8. CULAPAH

Kotak kecil tempat tembakau dengan bahan yang terbuat bdari emas, perak atau loyang berukir sesuai gerga atau ornamen Pakpak yang ada. Ukurannya lebih kurang 6 x 8 cm.

9. KANCING EMMAS

Kancing bulat (berbentuk lingkaran) namun dengan lobang ditengah. Jari-jari lebih kurang 3-4 cm. Terbuat dari emas, perak atau logam yang dilapisi emas. Fungsinya sebagai hiasan, dan menutupi kancing sebenarnya. Artinya umumnya tidak berfungi sebagai kancing dalam artian yang sebenarnya, hanya merupakan assesories semata.

Penulis: Bpk. Muda Banurea | Dikutip Dari : Pakpak Sim Blog


LOGIN E-KINERJA
Copyright © 2020 Kabupaten Pakpak Bharat. All Right Reserved